Rabu, 17 Januari 2018

Laporan Pendahuluan Stroke Hemoragik

stroke hemooragik
stroke hemoragik




A.      Pengertian
Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih, dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain selain vaskuler.
Stroke adalah sindrom yang terjadi dari tanda/gejala hilangnya fungsi saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam detik atau menit) (Ginsberg, 2008). Selain itu, stroke merupakan sindrom yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak dengan awitan akut, disertai manifestasi klinis berupa defisit neurologis dan bukan sebagai tumor, trauma ataupun infeksi susunan saraf pusat, namun karena pecahnya pembuluh arteri, vena, dan kapiler. Stroke ini meningkat seiring pertambahan usia (Dewanto, 2009 dan Muttaqin, 2008).
Stroke biasanya diakibatkan oleh empat kejadian, yaitu (1) trombosis (bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher), (2) embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain), (3) iskemia (penurunan aliran darah ke otak), dan (4) hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral sehingga perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak) (Smeltzer & Brenda, 2002).

B.       Klasifikasi
Stroke diklasifikasikan sebagai berikut (Goetz, 2007):
1.      Berdasarkan kelainan patologis
a.       Stroke hemoragik
1)      Perdarahan intra serebral
2)      Perdarahan ekstra serebral (subarakhnoid)
b.      Stroke non-hemoragik (stroke iskemik, infark otak, penyumbatan)
1)      Stroke akibat trombosis serebri
2)      Emboli serebri
3)      Hipoperfusi sistemik
2.      Berdasarkan waktu terjadinya
a.       Transient Ischemic Attack (TIA), atau lebih di kenal dengan transien ischemik attack dapat didefinisikan sebagai suatu defisit neurologis lokal disebabkan oleh hipoperfusi reversibel daerah otak, dengan pemulihan penuh dalam waktu kurang dari 24 jam.
b.      Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND), Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih lama dari 24 jam, tetapi tidak lebih dari seminggu.
c.       Stroke In Evolution (SIE) / Progressing Stroke, Gejala neurologik yang makin lama makin berat
d.      Completed stroke, gejala klinis sudah menetap.
3.      Berdasarkan lokasi lesi vaskuler
a.       Sistem karotis
1)      Motorik : hemiparese kontralateral, disartria
2)      Sensorik : hemihipestesi kontralateral, parestesia
3)      Gangguan visual : hemianopsia homonim kontralateral, amaurosis fugaks
4)      Gangguan fungsi luhur : afasia, agnosia
b.      Sistem vertebrobasiler
1)      Motorik : hemiparese alternans, disartria
2)      Sensorik : hemihipestesi alternans, parestesia
3)      Gangguan lain : gangguan keseimbangan, vertigo, diplopia


STROKE HEMORAGIK

A.      Pengertian
Adapun stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah sehingga menyebabkan iskemia (penurunan aliran) dan hipoksia di sebelah hilir (Corwin, 2009). Menurut Muttaqin (2008), stroke hemoragik merupakan perdarahan serebri dan mungkin perdarahan subarachnoid yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu dan biasanya terjadi saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat.
Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang cairan serebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya. Perdarahan tersebut menyebabkan gangguan serabut saraf otak melalui penekanan struktur otak dan juga oleh hematom yang menyebabkan iskemia pada jaringan sekitarnya. Peningkatan tekanan intrakranial pada gilirannya akan menimbulkan herniasi jaringan otak dan menekan batang otak (Goetz, 2007).

B.       Etiologi
Stroke hemoragik paling sering disebabkan oleh tekanan darah tinggi, yang menekan dinding arteri sampai pecah. Adapun beberapa penyebab stroke lainnya :
1.      Perdarahan serebri
Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab kasus gangguan pembuluh darah otak dan merupakan persepuluh dari semua kasus penyakit ini. Perdarahan intrakranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteria serebri.
2.      Pecahnya aneurisma
Biasanya perdarahan serebri terjadi akibat aneurisme yang pecah maka penderita biasanya masih muda dan 20% mempunyai lebih dari satu aneurisme. Dan salah satu dari ciri khas aneurisme adalah kecendrungan mengalami perdarahan ulang (Sylvia A. Price, 1995)
3.      Penyebab lain (dapat menimbulkan infark atau perdarahan).
a.       Trombosis sinus dura
b.      Diseksi arteri karotis atau vertebralis
c.       Vaskulitis sistem saraf pusat
d.      Oklusi arteri besar intrakranial yang progresif)
e.       Migrain
f.       Kondisi hyperkoagulasi
g.      Penyalahgunaan obat (kokain dan amfetamin)
h.      Kelainan hematologis (anemia sel sabit, polisitemia atau leukemia)

C.      Jenis-jenis Stroke Hemoragik
1.      Perdarahan Sub Dural (PSD)
Perdarahan subdural terjadi diantara duramater dan araknoid. Perdarahan dapat terjadi akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam dura mater atau karena robeknya araknoid.
2.      Perdarahan Sub Araknoid (PSA)
Perdarahan Subaraknoid (PSA) adalah keadaan akut dimana terdapatnya/masuknya darah ke dalam ruangan subaraknoid, atau perdarahan yang terjadi di pembuluh darah di luar otak, tetapi masih di daerah kepala seperti di selaput otak atau bagian bawah otak. PSA menduduki 7-15% dari seluruh kasus Gangguan Peredaran Darah Otak (GPDO). Sebagian dari lesi vascular yang dapat menyebabkan perdarahan subaraknoid (PSA) adalah aneurisma sakular dan malformasi arteriovena (MAV).

Gejala klinis :
a.       Onset penyakit berupa nyeri kepala mendadak seperti meledak, dramatis, berlangsung dalam 1 – 2 detik sampai 1 menit.
b.      Vertigo, mual, muntah, banyak keringat, mengigil, mudah terangsang, gelisah dan kejang.
c.       Dapat ditemukan penurunan kesadaran dan kemudian sadar dalam beberapa menit sampai beberapa jam.
d.      Dijumpai gejala-gejala rangsang meningen
e.       Perdarahan retina berupa perdarahan subhialid merupakan gejala karakteristik perdarahan subarakhnoid.
f.       Gangguan fungsi otonom berupa bradikardi atau takik ardi, hipotensi atau hipertensi, banyak keringat, suhu badan meningkat, atau gangguan pernafasan.

3.      Perdarahan Intra Serebral (PIS)
Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang primer berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma, dimana 70% kasus PIS terjadi di kapsula interna, 20% terjadi di fosa posterior (batang otak dan serebelum) dan 10% di hemisfer (di luar kapsula interna). PIS terutama disebabkan oleh hipertensi (50-68%). Angka kematian untuk perdarahan intraserebrum hipertensif sangat tinggi, mendekati 50%. Perdarahan yang terjadi diruang supratentorium (diatas tentorium cerebeli) memiliki prognosis yang baik apabila volume darah sedikit. Namun, perdarahan kedalam ruang infratentorium didaerah pons atau cerebellum memiliki prognosis yang jauh lebih buruk karena cepatnya timbul tekanan pada struktur–struktur vital dibatang otak.
Gejala klinis :
a.       Onset perdarahan bersifat mendadak, terutama sewaktu melakukan aktivitas dan dapat didahului oleh gejala prodromal berupa peningkatan tekanan darah yaitu nyeri kepala, mual, muntah, gangguan memori, bingung, perdarhan retina, dan epistaksis.
b.      Penurunan kesadaran yang berat sampai koma disertai hemiplegia/hemiparese dan dapat disertai kejang fokal / umum.
c.       Tanda-tanda penekanan batang otak, gejala pupil unilateral, refleks pergerakan bola mata menghilang dan deserebrasi
d.      Dapat dijumpai tanda-tanda tekanan tinggi intrakranial (TTIK), misalnya papiledema dan perdarahan subhialoid.

D.      Faktor Risiko
Faktor risiko stroke dibagi atas faktor risiko yang dapat dimodifikasi (modifiable) dan yang tidak dapat dimodifikasi (nonmodifiable) (Goetz, 2007; Ropper 2005).
1.      Faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi diantaranya adalah hipertensi, penyakit jantung (fibrilasi atrium), diabetes melitus, merokok, konsumsi alkohol, hiperlipidemia, kurang aktifitas, dan stenosis arteri karotis.
2.      Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain usia, jenis kelamin, ras/suku, dan faktor genetik.

E.       Manifestasi Klinis
1.      Perdarahan Sub Dural
Gejala-gejala perdarahan sub dural adalah nyeri kepala progresif, ketajaman penglihatan mundur akibat edema papil yang terjadi, tanda-tanda defisiensi neorologik daerah otak yang tertekan
2.      Perdarahan Sub Araknoid
a.       Gejala prodormal : nyeri kepala hebat dan akut hanya 10%, 90% tanpa keluhan sakit kepala.
b.      Kesadaran sering terganggu, dari tidak sadar sebentar, sedikit delirium sampai koma.
c.       Fundus okuli : 10% penderita mengalami papil edema beberapa jam setelah perdarahan.
d.      Gangguan fungsi saraf otonom, mengakibatkan demam setelah 24 jam karena rangsangan meningeal, muntah, berkeringat, menggigil, dan takikardi.
e.       Bila berat, maka terjadi ulkus peptikum disertai hamtemesis dan melena (stress ulcer), dan sering disertai peningkatan kadar gula darah, glukosuria dan albuminuria.
3.      Perdarahan Intra Serebral
a.       Gejala prodormal tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi. Serangan seringkali di siang hari, waktu bergiat atau emosi/ marah. Pada permulaan serangan sering disertai dengan mual, muntah dan hemiparesis. Kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma (65% terjadi kurang dari setengah jam, 23% antara ½-2 jam, dan 12% terjadi setelah 2 jam sampai 19 hari)
Sedangkan menifestasi klinis dari stroke hemoragik berdasarkan lokasi perdarahannya:
1.      Hemisfer Serebri
Hemisfer serebri dibagi menjadi dua belahan, yaitu hemisfer serebri sinistra (kiri) dan hemisfer serebri dextra (kanan). Hemisfer serebri kiri mengendalikan kemampuan memahami dan mengendalikan bahasa serta berkaitan dengan berpikir ”matematis” atau ”logis”, sedangkan hemisfer serebri dextra berkaitan dengan keterampilan, perasaan dan kemampuan seni.
2.      Ganglion Basalis
Fungsional peranan umum ganglion basal adalah untuk bekerja sebagai stasiun-stasiun pemrosesan yang menghubungkan korteks serebrum dengan nukleus-nukleus thalamus tertentu dan akhirnya berproyeksi ke korteks serebrum. Kerusakan pada ganglion basalis akan mengakibatkan penderita mengalami kesukaran untuk memulai gerak yang diinginkan.
3.      Batang Otak
Batang otak adalah bagian otak yang masih tersisa setelah hemisfer serebri dan serebelum diangkat. Medula oblongota, pons dan otak tengah merupakan bagian bawah atau bagian infratentorium batang otak. Kerusakan pada batang otak akan mengakibatkan gangguan berupa nyeri, suhu, rasa kecap, pendengaran, rasa raba, raba diskriminatif, dan apresiasi bentuk, berat dan tekstur.
4.      Serebelum
Serebelum terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a.       Archiserebelum berfungsi untuk mempertahankan agar seseorang berorientasi terhadap ruangan. Kerusakan pada daerah ini akan mengakibatkan ataxia tubuh, limbung dan terhuyung-huyung.
b.      Paleoserebelum, mengendalikan otot-otot antigravitas dari tubuh, apabila mengalami kerusakan akan menyebabkan peningkatan refleks regangan pada otot-otot penyokong.
c.       Neoserebelum, berfungsi sebagai pengerem pada gerakan dibawah kemauan, terutama yang memerlukan pengawasan dan penghentian, serta gerakan halus dari tangan. Kerusakan pada neoserebelum akan mengakibatkan dysmetria, intenton tremor dan ketidakmampuan untuk melakukan gerakan mengubah-ubah yang cepat.

F.       Patofisiologi
(Terlampir)




G.      Pemeriksaan Diagnostik
1.      Pemeriksaan fisik
No
Pemeriksaan umum
Keterangan
1.
Umum
Tanda vital termasuk irama jantung, Bising kardial, meningismus
2.
Kognitif
-Tingkat kesadaran, behavior
- Orientasi, perhatian, gangguan lapang pandang
- Fungsi bahasa (kelancaran, komprehensi, repetisi)
- Refleks primitif (grasping, kurang inisiasi, perseverasi)
- Gangguan memori jangka pendek (3 kata dalam 5 menit)
3.
Nervi kraniales
- Ptosis, refleks cahaya pupil, konfrontasi lapangan pandang
- Gerakan okuler, nistagmus
- Paralisis fasial dan sensasi
- Deviasi lidah dan palatum, disartria
4.
Anggota gerak
- Kedua lengan dan kaki serta kemampuan untuk mengangkat dan kekuatannya
- Ataksia
- Sensasi
- Refleks (refleks tendo, refleks kutaneus plantar)

2.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke hemoragik antara lain adalah:
No
Pemeriksaan
Penjelasan
1.
Neuroimaging (minimal salah satu)
·  CT Scan kepala, termasuk perfusion CT Scan
·  MRI kepala, termasuk imaging difusi dan perfusi, FLAIR dan T2
2.
Pemeriksaan imaging pada servikal dan arteri intracranial (minimal salah satu)
·  CT angiografi atau MR angiografi
·  Doppler dan duplex ultrasonografi
·  Angiografi konvensional atau digital (jika akan dilakukan trombolisis intra-arterial)
3.
Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap, INR, aPTT, PTT, gula darah, Natrium, Kalium, ureum, kreatinin, CK, CK-MB, CRP
4.
Lain-lain
·  EKG
·  Pungsi lumbal (jika curiga perdarahan subarakhnoid atau infeksi
·  meningo-vaskuler)
1.      Angiografi, dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial, yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan.
2.      CT-Scan, dapat menunjukkan adanya hematoma, infark dan perdarahan.
3.      EEG (Elektro  Encephalogram), dapat menunjukkan lokasi perdarahan, gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan.
4.      Pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui adanya anemia, leukositosis (setelah terjadinya infeksi sistemik).
5.      Pemeriksaan koagulasi untuk menentukan riwayat koagulopati sebelumnya
6.      Ureum dan elektrolit untuk menentukan hiponatremia akibat salt wasting, glukosa serum untuk menentukan hipoglikemia.
7.      Rontgen toraks untuk melihat edema pulmonal atau aspirasi
8.      EKG 12 sadapan untuk melihat aritmia jantung atau perubahan segmen ST
9.      Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui stroke hemoragik ini adalah CT scan otak. CT scan sangat sensitif terhadap hemoragi (untuk keadaan darurat). Sebagian besar alat MRI walaupun bahkan lebih sensitif dari pada CT scan namun direkomendasikan untuk menentukan lokasi kerusakan yang tepat dan memantau lesi
.
H.    Penatalaksanaan
Dalam tatalaksana stroke waktu merupakan hal yang sangat penting mengingat jendela terapinya hanya berkisar antara 3 sampai 6 jam. Tindakan di gawat darurat untuk stroke akut sebaiknya ditekankan pada hal-hal berikut:
1.      Stabilisasi pasien
2.      Pemeriksaan darah, EKG dan rontgen toraks
3.      Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
4.      Pemeriksaan CT Scan kepala atau MRI sesegera mungkin
Pendekatan yang dilakukan di gawat darurat sebaiknya singkat dan terfokus pada hal-hal berikut:
1.      Apa saja gejala yang muncul?
  1. Kapan gejala tersebut muncul?
  2. Bagamana tanda vital pasien?
  3. Apakah pasien mempunyai riwayat hipertensi, diabetes melitus atau penyakit jantung?
  4. Apakah pasien memakai aspirin atau warfarin?
Hal yang harus selalu diingat adalah komplikasi tersering yang dapat menyebabkan kematian. Herniasi transtentorial dapat terjadi pada infark yang luas ataupun perdarahan luas dengan perluasan ke ventrikel atau perdarahan subarakhnoid. Pneumonia aspirasi juga penyebab kematian yang cukup sering pada stroke akut. Semua pasien stroke akut harus diperlakukan sebagai pasien dengan disfagia sampai terbukti tidak. Komplikasi lainnya adalah infark miokard akut, sekitar 3% penderita stroke iskemik mengalami komplikasi ini.
Perawatan di ICU jika didapatkan volume hematoma lebih dari 30 cc, perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus dan klinis cenderung memburuk, Tekanan darah diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau sebanyak 15-20% bila tekanan sistolik >180, diastolik >120, MAP >130, dan volume hematoma bertambah. Bila terdapat gagal jantung maka tekanan darah segera diturunkan dengan labetolol intravena dengan dosis 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg; enelapril intravena 0,625-1.25 mg per 6 jam; Captopril 3 kali 6,25-25 mg peroral.
Jika didapatkan tanda-tanda tekanan intra kranial meningkat, mka posisi kepala dinaikkan 30 derajat, dengan posisi kepala dan dada pada satu bidang, bisa dilakukan pemberian manitol (lihat stroke iskemik), dan hiperventilasi (PCO2 20-35 mmHg). Penatalaksanaan terapi secara umum sama dengan stroke iskemik, Jika didapatkan tukak lambung maka harus dilakukan dan dapat juga dicegah dengan pemberian antagonis H2 parenteral, sukralfat, atau inhibitor pompa proton,
Terapi khusus
Pemberian neuroprotektor dapat diberikan pada perdarahan intraserebral kacuali yang bersifat vasodilator. Tindakan bedah hanya dilakukan dengan mempertimbangkan usia dan letak perdarahan lesi yaitu pada pasien yang memburuk karena perdarahan serebelum dengan diameter lebih dari 3 cm3, hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum, yaitu dilakukan pemasangan VP-shunting dan perdarahan lobar di atas 60 cc dengan tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi. Pada perdarahan subarakhnoid dapat diberikan Kalsium antagonis (nimodipine) maupun tindakan bedah (aneurisma, AVM) dengan ligasi, embolisasi, ekstirpasi, gamma knife.

I.         Proses Keperawatan
1.      Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d cedera otak, penurunan perfusi serebral, peningkatan TIK, dan hipertensi intrakranial.
2.      Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, gangguan muskuloskeletal, dan gangguan neuromuskuler pada ekstremitas.
3.      Hambatan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak, kelemahan sistem muskuloskeletal.
4.      Defisit perawatan diri b.d gangguan muskuloskeletal, kelemahan




Rencana Keperawatan

Diagnosa
Tujuan & KH
Intervensi
Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d cedera otak, penurunan perfusi serebral, peningkatan TIK, dan hipertensi intrakranial.

Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x... jam terjadi peningkatan kapasitas adaptif intrakranial.

KH :
Neurogical status
-          Kesadaran
-          Pusat kontrol motorik
-          Fungsi pusat sensori dan motorik
-          Tekanan intrakranial
-          Mengkomunikasikan situasi yang semestinya
-          Ukuran pupil
-          Reactivity pupil
-          Pola gerakan mata klien
-          Pola napas
-          Tekanan darah
-          Nadi
-          RR
-          Hipertermi
-          Sakit kepala
Measurement Scale
1= severely compromised
2= substantially compromised
3= Moderately compromised
4= mildly compromised
5= not compromised

Circulation status
-          Tekanan darah sistolik
-          Tekanan darah diastolik
-          Tekanan nadi
-          Tekanan darah rata-rata
-          Urin output
-          Kapilery refil
-          Suara napas tambahan

Measurement Scale
1= severely deviation from normal range
2= substantially deviation from normal range
3= Moderately deviation from normal range
4= mildly deviation from normal range
5= not deviation from normal range

Neurologic Monitoring
-       Monitor ukuran, kesimetrisan, bentuk pupil
-       Monitor tingkat kesadaran klien
-       Monitor tingkat orientasi klien
-       Monitor GCS klien
-       Monitor tanda vital: suhu, tekenan darah, nadi, dan pernapasan klien
-       Monitor status pernapasan: AGD, nadi oksimetri, kedalaman, pola, kecepatan dan kemampuan bernapas klien
-       Monitor parameter hemodinamik tindakan invasif yang tepat
-       Monitor ICP dan CPP
-       Monitor refleks corneal
-       Monitor refleks batuk dan gag
-       Monitor kekuatan otot, kemampuan berpindah, dan cara berjalan klien
-       Monitor kesimetrisan wajah
-       Monitor gangguan visual klien: diplopia, nistagmus, pandangan kabur,
-       Monitor cara bicara klien:kefasihan, aphasia, kesulitan menemukan kata
-       Monitor respon terhadap rangsangan: verbal, taktil
-       Monitor respon terhadap pengobatan
-       Tingkatkan frekuensi monitoring neurologis sesuai indikasi
-       Hindari kegiatan yang dapat meningkatkan TIK





ICP monitoring
-       Ukur peningkatan TIK dengan alat monitoring TIK
-       Catat adanya peningkatan TIK
-       Monitor kualitas dan karakteristik peningkatan TIK
-       Monitor tekanan perfusi serebral
-       Monitor status neurologis
-       Monitor intake dan output
-       Pertahankan sterilitas dari sistem monitor
-       Monitor temperatur dan jumlah leukosit darah
-       Berikan antibiotik
-       Posisikan kepala dan leher dengan posisi netral, hindari posisi ektrim fleksi panggul
-       Sesuaikan posisi kepala ntuk mengoptimalkan perfusi serebral
-       Beritahu dokter bahwa elevasi PTIK tidak berespon terhadap protokol pengobatan
Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, gangguan muskuloskeletal, dan gangguan neuromuskuler pada ekstremitas.

Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x... jam klien mampu menunjukkan pergerakan ekstremitas.

KH :
-          Klien dapat mempertahankan pergerakan ekstremitas meliputi pergelangan kaki/tangan, siku, jari-jari, panggul, lutut, leher. 


Joint mobility :
-          Tentukan keterbatasan pergerakan sendi
-          Kolaborasi dengan fisioterapist untuk mendukung program latihan
-          Jelaskan pada pasien tentang tujuan latihan
-          Pantau lokasi ketidaknyamanan selama aktivitas
-          Jaga pasien dari trauma selama latihan
-          Bantu posisi optimal untuk pergerakan sendi baik pasif maupun aktif
-          Lakukan ROM aktif/pasif sessuai indikasi
-          Bantu untuk membuat jadwal latihan
-          Bantu pergerakan sendi secara teratur dalam mengurangi nyeri, ketahanan, dan kelenturan
Muscle control :
-          Kaji fungsi sensori pasien
-          Jelaskan rasional latihan tersebut dilakukan
-          Berikan lingkungan yang tenang untuk istirahat setelah dilakukan latihan
-          Pantau respon emosional, dan fungsi kardiovaskuler selama latihan
-          Pantau kebenaran tindakan saat latihan mandiri
-          Kaji kembali progres dari fungsi pergerakan tubuh pasien

Hambatan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak, kelemahan sistem muskuloskeletal.

Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x... jam komunikasi verbal teratasi.
KH :
-          Menggunakan bahasa lisan
-          Menggunakan bahasa tulis
-          Menggunakan bahasa non verbal
-          Memahami isi dari pesan yang diterima

Hemodynamic regulation
-       Kenali adanya perubahan tekanan darah
-       Auskultasi suara paru dan suara tambahan lainnya
-       Aukultasi suara jantung
-       Monitor dan catat HR, ritme, dan denyut jantung
-       Monitor level elektrolit
-       Monitor resistensi pembulh darah sistemik dan pulmonal
-       Monitor curah jantung
-       Monitor nadi periperal, capilarely refil, temperatur, warna ektremitas
-       Elevasi kepala dengan tepat
-       Berikan vasodialator/vasokonstriktor sesuai indkasi
-       Monitor intake output
-       Pasang kateter urin dengan tepat
-       Monitr efek pengobatan


Lampiran
Tabel perbedaan Stroke Hemoragik dan Non-Hemoragik
Gejala Klinis
PIS
PSA
Non-Hemoragik
Defisit fokal
Berat
Ringan
Ringan-berat
Onset
Menit/ jam
1-2 menit
Pelan (jam/ hari)
Nyeri Kepala
Hebat
Sangat hebat
Ringan
Muntah pada awalnya
Sering
Sering
Tidak, kecuali lesi di batang otak
Hipertensi
Hampir selalu
Biasanya tidak
Sering kali
Penurunan kesadaran
Ada
Ada
Tidak ada
Kaku kuduk
Jarang
Ada
Tidak ada
Hemiparesis
Sering dari awal
Permulaan tidak ada
Sering dari awal
Gangguan bicara
Biasa ada
Jarang
Sering
Likuor
Berdarah
Berdarah
Jernih
Paresi/ gangguan N III
Tidak ada
Bisa ada
Tidak ada


http://2.bp.blogspot.com/-MpIPww27h7E/UPKmjUchmOI/AAAAAAAAApE/jBHPQ9P7qPk/s1600/Pathway%2BStroke.jpg


DAFTAR PUSTAKA
Baehr M, Frotscher M. Duus’ : Topical Diagnosis in Neurology. 4 th revised edition. New York : Thieme. 2005.
Bulechek, Gloria M. Et al. Nursing Intervention Classification. Fifth Edition. United State of America : LSEVIER MOSBY. 2004
Corwin, Elizabeth J. Buku Saku Patofisiologi. Ed.3. Jakarta : EGC. 2009
Dewanto, George, dkk. Panduan Praktis Diagnosis & tata laksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC. 2009
Ginsberg, Lionel. Lecture Notes Neurologi. Jakata : PT Gelora Aksara Pratama. 2008
Goetz Christopher G. Cerebrovascular Diseases. In : Goetz: Textbook of Clinical Neurology, 3th ed. Philadelphia : Saunders. 2007
Herdman, T. Heather. Nanda International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC. 2012.
Kelompok Studi Stroke PERDOSSI. Pencegahan Primer Stroke. Dalam : Guideline Stroke 2007. Jakarta
Moorhead, Sue et al. Nursing Outcomes Classification (NOC). Fourth Edition. United State of America : LSEVIER MOSBY. 2004
Rumantir CU. Gangguan peredaran darah otak. Pekanbaru : SMF Saraf RSUD Arifin Achmad/FK UNRI. Pekanbaru. 2007.
Rumantir CU. Pola Penderita Stroke Di Lab/UPF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode 1984-1985. Laporan Penelitian Pengalaman Belajar Riset Dokter Spesialis Bidang Ilmu Penyakit Saraf. 1986.
Ropper AH, Brown RH. Cerebrovascular Diseases. In : Adam and Victor’s Priciples of Neurology. Eight edition. New York : Mc Graw-Hill, 2005.



Artikel Terkait

Silahkan Sobat berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan isi artikel. Dimohon untuk:
1. Tidak berkomentar kasar/berbau SARA/porno.
2. Tidak membagikan link aktif dalam kolom komentar.

Selamat Berkomentar :D
EmoticonEmoticon