Senin, 22 Januari 2018

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS (PPOK)




PENGERTIAN


PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat progresif non reversible atau revesibel parsial. PPOK merupakan gabungan dari bronkitis kronik, emfisema atau gabungan keduanya. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)
PPOK adalah sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara ( Price, 2006)
PPOK
PPOK


KLASIFIKASI
1.  Bronkitis Kronik
Merupakan kelainan saluran nafas yang ditandai dengan batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun sekurang-kurangnya 2 tahun berturut-turut tanpa disebabkan penyakit lainnya. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)
Merupakan suatu gangguan klinis yang ditandai oleh pembentukan mukus yang berlebihan dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk kronik dan pembentukan sputum selama sedikitnya 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dalam 2 tahun berturut-turut. (Price, Wilson, 2001)
2.  Emfisema
Suatu perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai oleh pembesaran alveolus dan duktus alveolarisyang tidak normal serta destruksi dinding alveolar. Emfisema dapat didiagnosa secara tepat dengan CT Scan resolusi tinggi. (Price, Wilson, 2001)
Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal disertai kerusakan dinding alveoli. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003). Secara anatomik emfisema dibagi menjadi:
a.  Emfisema sentriasinar atau emfisema sentrilobular (CLE), dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer, terutama mengenai bagian atas paru akibat kebiasaan merokok lama. CLE lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan wanita dan jarang ditemukan pada mereka yang tidak merokok.
b.  Emfisema panasinar atau emfisema panlobuler (PLE), melibatkan seluruh alveoli secara merata dan terbanyak pada paru bagian bawah
c.  Emisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran nafas distal, duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura.


Klasifikasi PPOK menurut tingkat keparahan, yaitu:
Klasifikasi Penyakit
Gejala
Spirometri
Ringan
·    Tidak ada gejala waktu istirahat atau bila eksersais
·    Tidak ada gejala waktu istirahat tetapi gejala ringan pada latihan sedang (mis: berjalan cepat, naik tangga)
·    Tidak ada gejala waktu istirahat tetapi mulai terasa pada latihan / kerja ringan (mis : berpakaian)
VEP > 80% prediksi VEP/KVP < 75%
Sedang
Gejala sedang pada waktu istirahat
VEP 30 - 80%
prediksi VEP/KVP <
75%
Berat
·         Gejala berat pada saat istirahat
·         Tanda-tanda korpulmonal
VEP1<30% prediksi
VEP1/KVP < 75%

Sumber: Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) 2006


ETIOLOGI
a.    Faktor lingkungan: merokok merupakan penyebab utama, disertai resiko tambahan akibat polutan udara di tempat kerja atau di dalam kota. Sebagian pasien memiliki asma kronis yang tidak terdiagnosisdan tidak diobati.
b.    Genetik: defisiensi anitripsin merupakan predisposisi untuk berkembangnya PPOK.  Di Amerika Serikat, iritasi yang paling umum yang menyebabkan PPOK adalah asap rokok. Pipa, cerutu, dan jenis-jenis asap rokok juga dapat menyebabkan PPOK, terutama jika asap yang dihirup.(National Heart Lung and Blood.2010)

FAKTOR RESIKO
1.  Jenis kelamin laki-laki berisiko 2x lebih banyak dari wanita
2.  Kebiasaan merokok (laki-laki diatas 15 tahun 60-70% lebih berisiko). Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan :
a.  Riwayat merokok
·   Perokok aktif
·   Perokok pasif
·   Bekas perokok
b.  Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokokdihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun :
·    Ringan : 0-200
·    Sedang : 200-600
·    Berat : >600
3.  Riwayat terpajan polusi udara di tempat kerja atau lingkungan
4.  Hipereaktiviti bronkus
5.  Riwayat Infeksi saluran nafas bawah berulang
6.  Defisiensi antitripsin alfa – 1, umumnya jarang terdapat di Indonesia

PATOFISIOLOGI / PATHWAY

Fungsi paru mengalami kemunduran dengan datangnya usia tua yang disebabkan elastisitas jaringan paru dan dinding dada makin berkurang. Dalam usia yang lebih lanjut, kekuatan kontraksi otot pernapasan dapat berkurang sehingga sulit bernapas.  Fungsi paru-paru menentukan konsumsi oksigen seseorang, yakni jumlah oksigen yang diikat oleh darah dalam paru-paru untuk digunakan tubuh.  Konsumsi oksigen sangat erat hubungannya dengan arus darah ke paru-paru.  Berkurangnya fungsi paru-paru juga disebabkan oleh berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti fungsi ventilasi paru. Faktor-faktor risiko tersebut diatas akan mendatangkan proses inflamasi bronkus dan juga menimbulkan kerusakan apda dinding bronkiolus terminalis. Akibat dari kerusakan akan terjadi obstruksi bronkus kecil (bronkiolus terminalis), yang mengalami penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk ke alveoli pada saat inspirasi, pada saat ekspirasi banyak terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara (air trapping). Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan sesak napas dengan segala akibatnya. Adanya obstruksi pada awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi. Fungsi-fungsi paru: ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun perfusi darah akan mengalami gangguan (Brannon, et al, 1993).

TANDA DANGEJALA
Gejala PPOK dapat berkisar dari ringan sampai berat, tergantung pada bagaimana lanjutan penyakit. PPOK, atau penyakit paru obstruktif kronik, adalah penyakit paru-paru ditandai oleh penyumbatan atau penyempitan saluran udara. Ini adalah proses ireversibel yang biasanya disebabkan oleh iritasi saluran napas, seperti merokok, perokok pasif, polusi udara atau pemaparan dalam pekerjaan.
1.    Dispnea
Juga dikenal sebagai sesak napas, dyspnea adalah akibat kelaparan udara yang menyebabkan sulit atau bekerja pernapasan. Hal ini terutama disebabkan oleh kekurangan oksigen dalam aliran darah dan secara langsung berkaitan dengan gangguan di paru-paru seperti PPOK.
2.    Batuk kronis
Jenis batuk jangka panjang dan tampaknya tidak pergi. Batuk adalah mekanisme pertahanan yang dikembangkan oleh tubuh dalam upaya untuk membersihkan saluran napas dari lendir, menghirup zat beracun, benda asing atau jenis lain dari iritasi. Batuk produktif membersihkan lendir dari paru-paru, sedangkan batuk tidak produktif tidak mudah menghasilkan lendir. Batuk adalah salah satu gejala paling umum dari PPOK.
3.    Peningkatan produksi sputum
Dahak, atau lendir, adalah zat yang diproduksi dari paru-paru yang biasanya dikeluarkan melalui batuk atau membersihkan tenggorokan. Jumlah berlebihan dahak dapat dikaitkan dengan peradangan atau infeksi saluran pernapasan dan mungkin menunjukkan PPOK. Warna dan konsistensi sputum tubuh Anda memproduksi bisa berhubungan dengan jenis PPOK yang mungkin Anda miliki, dan biasanya dokter akan meminta Anda untuk menggambarkannya. Tenaga kesehatan juga dapat meminta sampel dahak dari Anda untuk membantu diagnosis.
4.    Mengi
Sering digambarkan sebagai suara siulan terdengar selama inhalasi atau pernafasan, mengi disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan saluran udara.  Sering kali, mengi dapat menjadi begitu umum bahwa Anda dapat mendengarnya tanpa bantuan stetoskop.
5.    Nyeri Dada
Sesak di dada dapat digambarkan sebagai perasaan tekanan di dalam dinding dada yang membuat pernapasan otomatis sulit. Kadang-kadang, sesak ini membuat pernafasan respirasi menyebabkan menyakitkan harus singkat dan dangkal. Sesak dada dapat disebabkan oleh infeksi paru-paru dan seringkali dihubungkan dengan PPOK.
6.    Kelelahan
Berbeda dengan kelelahan biasa, kelelahan adalah gejala yang sering kurang dipahami dan sering kali dilaporkan di PPOK sebagai fokus cenderung turun pada gejala dikenali lebih seperti dispnea dan batuk kronis. Tapi, karena kelelahan hampir 3 kali lebih besar pada mereka yang memiliki penyakit paru-paru dibandingkan pada orang sehat, itu adalah penting untuk mengenali gejala.
7.    Clubbing dari Fingers
Clubbing adalah tanda jangka panjang kekurangan oksigen dan berhubungan dengan sejumlah macam penyakit, termasuk PPOK. Awalnya, ia mewujudkan dirinya sebagai sponginess dari kuku bersama dengan hilangnya sudut kuku, menyebabkan kuku melengkung ke bawah.
8.    Hemoptisis
Gejala dari kedua paru-paru dan masalah jantung, hemoptysis didefinisikan sebagai batuk sampai darah dari paru-paru yang berbusa dan dicampur dengan lendir. Pada PPOK, penyebab paling umum adalah infeksi pada paru-paru.  Penting untuk dicatat bahwa jumlah darah yang batuk tidak selalu mencerminkan keseriusan penyebabnya.
9.    Sianosis
Sianosis digambarkan sebagai perubahan warna kebiruan pada kulit dan merupakan tanda akhir dari kekurangan oksigen kronis dalam darah. Tempat umum untuk sianosis muncul adalah bibir, lidah, nailbeds dan telinga.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.    Pemeriksaan rutin
a)    Faal paru
Spirometri (VEP1, VEP1prediksi, KVP, VEP1/KVP
·         Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP (%).
·         Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1% (VEP1/KVP) < 75 %
·         VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit.
·         Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan, APE meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore, tidak lebih dari 20%
Uji bronkodilator
·         Dilakukan dengan menggunakan spirometri, bila tidak ada gunakan APE meter.
·         Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, 15 - 20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 atau APE, perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai awal dan < 200 ml
·         Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil
b)    Darah rutin
Hb, Ht, leukosit
c)    Radiologi
Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain.
Pada emfisema terlihat gambaran :
-          Hiperinflasi
-          Hiperlusen
-          Ruang retrosternal melebar
-          Diafragma mendatar
-          Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop appearance).
Pada bronkitis kronik :
-          Normal
-          Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus
2.    Pemeriksaan khusus (tidak rutin)
a)    Faal paru
-          Volume Residu (VR), Kapasiti Residu Fungsional (KRF), Kapasiti Paru Total (KPT), VR/KRF, VR/KPT meningkat
-          DLCO menurun pada emfisema
-          Raw meningkat pada bronkitis kronik
-          Sgaw meningkat
-          Variabiliti Harian APE kurang dari 20 %
b)    Uji latih kardiopulmoner
-          Sepeda statis (ergocycle)
-          Jentera (treadmill)
-          Jalan 6 menit, lebih rendah dari normal
c)    Uji provokasi bronkus
Untuk menilai derajat hipereaktiviti bronkus, pada sebagian kecil PPOK terdapat hipereaktiviti bronkus derajat ringan
d)    Uji coba kortikosteroid
Menilai perbaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid oral (prednison atau metilprednisolon) sebanyak 30 - 50 mg per hari selama 2minggu yaitu peningkatan VEP1 pascabronkodilator > 20 % dan minimal 250 ml. Pada PPOK umumnya tidak terdapat kenaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid
e)    Analisis gas darah
Terutama untuk menilai :
-          Gagal napas kronik stabil
-          Gagal napas akut pada gagal napas kronik

f)     Radiologi
-          CT Scan resolusi tinggi
-          Mendeteksi emfisema dini dan menilai jenis serta derajat emfisema atau bula yang tidak terdeteksi oleh foto toraks polos
-          Scan ventilasi perfusi Mengetahui fungsi respirasi paru
g)    Elektrokardiografi
Mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh Pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.
h)   Ekokardiografi
Menilai funfsi jantung kanan
i)     Bakteriologi
Pemerikasaan bakteriologi sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan untuk mengetahui pola kuman dan untuk memilih antibiotik yang tepat. Infeksi saluran napas berulng merupakan penyebab utama eksaserbasi akut pada penderita PPOK di Indonesia.
j)      Kadar alfa-1 antitripsin
Kadar antitripsin alfa-1 rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia muda), defisiensi antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia.

PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah:
  1. Memeperbaiki kemampuan penderita mengatasiu gejala tidak hanya pada fase akut, tetapi juga fase kronik.
  2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.
  3. Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih awal.
Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:
1.    Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan merokok, menghindari polusi udara.
2.    Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
3.    Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.
4.    Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih controversial.
5.    Pengobatan simtomatik.
6.    Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
7.    Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan dengan aliran lambat 1 – 2 liter/menit.
8.    Tindakan rehabilitasi yang meliputi:
a.    Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus.
b.    Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan yang paling efektif.
c.    Latihan dengan beban oalh raga tertentu, dengan tujuan untuk memulihkan kesegaran jasmani.
d.    Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita dapat kembali mengerjakan pekerjaan semula.
Pathogenesis Penatalaksanaan (Medis)
  1. Pencegahan : Mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara
  2. Terapi eksaserbasi akut di lakukan dengan :
a.    Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi
Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia, maka digunakan ampisilin 4 x 0.25-0.56/hari atau eritromisin 4x0.56/hari Augmentin (amoksilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Cacarhalis yang memproduksi B. Laktamase Pemberiam antibiotik seperti kotrimaksasol, amoksisilin, atau doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-tanda pneumonia, maka dianjurkan antibiotik yang kuat.
b.    Terapi oksigen diberikan jika terdapata kegagalan pernapasan karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2
c.    Fisioterapi membantu pasien untuk mengelurakan sputum dengan baik.
d.    Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya golongan adrenergik b dan anti kolinergik. Pada pasien dapat diberikan salbutamol 5 mg dan atau ipratopium bromida 250 mg diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25 - 0,56 IV secara perlahan.
  1. Terapi jangka panjang di lakukan :
a.    Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4x0,25-0,5/hari dapat menurunkan kejadian eksaserbasi akut.
b.    Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal paru.
c.    Fisioterapi
d.    Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
e.    Mukolitik dan ekspektoran
f.     Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2 (7,3 Pa (55 MMHg)
g.    Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi.
Rehabilitasi untuk pasien PPOK adalah :
1)     Fisioterapi
2)     Rehabilitasi psikis
Rehabilitasi pekerjaan (Mansjoer 2001 : 481-482)

KOMPLIKASI PPOK
1.    Hipoxemia
Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg, dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood, penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul cyanosis.
2.    Asidosis Respiratory
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.
3.    Infeksi Respiratory
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus, peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
4.    Gagal jantung
Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini.
5.    Cardiac Disritmia
Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis respiratory.
6.    Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
Pengkajian mencakup pengumpulan informasi tentang gejala-gejala terakhir juga manifestasi penyakit sebelumnya. Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mendapatkan riwayat kesehatan yang jelas dari proses penyakit :
·         Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan ?
·         Apakah aktivitas meningkatkan dispnea? Jenis aktivitas apa?
·         Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas?
·         Kapan selama siang hari pasien mengeluh paling letih dan sesak napas?
·         Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruh?
·         Apa yang pasien ketahui tentang penyakit dan kondisinya?
Data tambahan dikumpulkan melalui observasi dan pemeriksaan; pertanyaan yang patut dipertimbangkan untuk mendapatkan data lebih lanjut termasuk :
·         Berapa frekuensi nadi dan pernapasan pasien?
·         Apakah pernapasan sama dan tanpa upaya?
·         Apakah pasien mengkonstriksi otot-otot abdomen selama inspirasi?
·         Apakah pasien menggunakan otot-otot aksesori pernapasan selama pernapasan?
·         Apakah tampak sianosis?
·         Apakah vena leher pasien tampak membesar?
·         Apakah pasien mengalami edema perifer?
·         Apakah pasien batuk?
·         Apa warna, jumlah dan konsistensi sputum pasien?
·         Bagaimana status sensorium pasien?
·         Apakah terdapat peningkatan stupor? Kegelisahan?

Diagnosa Keperawatan
1.    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkokonstriksi, peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal.
2.    Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan fungsi paru
3.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea
4.    Gangguan pola tidur berhubungan ketidaknyamanan karena batuk terus menerus
5.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.
6.    Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang informasi.

Intervensi
1.    Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal.
Tujuan: Pencapaian bersihan jalan napas klien
Intervensi keperawatan:
a.    Beri pasien 6 sampai 8 gelas cairan/hari kecuali terdapat kor pulmonal.
b.    Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernapasan diafragmatik dan batuk.
c.    Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser, inhaler dosis terukur, atau IPPB
d.    Lakukan drainage postural dengan perkusi dan vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai yang diharuskan.
e.    Instruksikan pasien untuk menghindari iritan seperti asap rokok, aerosol, suhu yang ekstrim, dan asap.
f.     Ajarkan tentang tanda-tanda dini infeksi yang harus dilaporkan pada dokter dengan segera: peningkatan sputum, perubahan warna sputum, kekentalan sputum, peningkatan napas pendek, rasa sesak didada, keletihan.
g.    Beriakn antibiotik sesuai yang diharuskan.
h.    Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan imunisasi terhadap influenzae dan streptococcus pneumoniae.
2.    Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan fungsi paru
Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas
Intervensi keperawatan:
a.    Deteksi bronkospasme saat auskultasi .
b.    Pantau klien terhadap dispnea dan hipoksia.
c.    Beriakn obat-obatan bronkodialtor dan kortikosteroid dengan tepat dan waspada kemungkinan efek sampingnya.
d.    Berikan terapi aerosol sebelum waktu makan, untuk membantu mengencerkan sekresi sehingga ventilasi paru mengalami perbaikan.
e.    Pantau pemberian oksigen.
3.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea
Tujuan: Kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi
Intervensi keperawatan:
a.    Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Evalusi berat badan
b.    Auskultasi bunyi usus
c.    Berikan perawatan oral sering
d.    Berikan porsi makan kecil tapi sering
e.    Hindari makanan penghasil gas dan minuman berkarbonat
f.     Hindari makanan yang sangat panas dan sangat dingin
g.    Timbang BB
h.    Konsul ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna
i.      Kaji pemeriksaan laboratorium seperti albumin serum
j.      Berikan vitamin/mineral/elektrolit sesuai indikasi
k.    Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi
4.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan karena batuk terus menerus
Tujuan : Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi
Interversi keperawatan :
a.    Bantu klien latihan relaksasi ditempat tidur.
b.    Lakukan pengusapan punggung saat hendak tidur dan anjurkan keluarga untuk melakukan tindakan tersebut.
c.    Atur posisi yang nyaman menjelang tidur, biasanya posisi high fowler.
d.    Lakukan penjadwalan waktu tidur yang sesuai dengan kebiasaan pasien.
e.    Berikan makanan ringan menjelang tidur jika klien bersedia.
5.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen.
Tujuan: Memperlihatkan kemajuan pada tingkat yang lebih tinggi dari aktivitas yang mungkin.
Intervensi keperawatan:
a.    Kaji respon individu terhadap aktivitas; nadi, tekanan darah, pernapasan.
b.    Ukur tanda-tanda vital segera setelah aktivitas, istirahatkan klien selama 3 menit kemudian ukur lagi tanda-tanda vital.
c.    Dukung pasien dalam menegakkan latihan teratur dengan menggunakan treadmill dan exercycle, berjalan atau latihan lainnya yang sesuai, seperti berjalan perlahan.
d.    Kaji tingkat fungsi pasien yang terakhir dan kembangkan rencana latihan berdasarkan pada status fungsi dasar.
e.    Sarankan konsultasi dengan ahli terapi fisik untuk menentukan program latihan spesifik terhadap kemampuan pasien.
f.     Sediakan oksigen sebagaiman diperlukan sebelum dan selama menjalankan aktivitas untuk berjaga-jaga.
g.    Tingkatkan aktivitas secara bertahap; klien yang sedang atau tirah baring lama mulai melakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.
h.    Tingkatkan toleransi terhadap aktivitas dengan mendorong klien melakukan aktivitas lebih lambat, atau waktu yang lebih singkat, dengan istirahat yang lebih banyak atau dengan banyak bantuan.
i.      Secara bertahap tingkatkan toleransi latihan dengan meningkatkan waktu diluar tempat tidur sampai 15 menit tiap hari sebanyak 3 kali sehari.
6.    Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan : Pasien mengerti tentang penyakitnya
Intervensi Keperawatan :
a.    Jelaskan proses penyakit
b.    Jelaskan pentingnya latihan nafas, batuk efektif
c.    Diskusikan efek samping dan reaksi obat
d.    Tunjukkan teknik penggunaan dosis inhaler
e.    Tekankan pentingnya perawatan gigi /mulut
f.     Diskusikan pentingya menghindari orang yang sedang infeksi
g.    Diskusikan faktor lingkungan yang meningkakan kondisi seperti udara terlalu kering, asap, polusi udara. Cari cara untuk modifikasi lingkungan
h.    Jelaskan efek, bahaya merokok
i.      Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas, aktivitas pilihan dengan periode istirahat
j.      Diskusikan untuk mengikuti perawatan dan pengobatan
k.    Diskusikan cara perawatan di rumah jika pasien diindikasikan pulang

Implementasi
Implementasi keperawatan dilakukan dengan mengacu pada intervensi yang sudah dibuat namun pada kenyataannya tidak semua intervensi dilakukan, karena disesuaikan dengan kondisi pasien saat melakukan asuhan keperawatan dan ketersediaan sarana prasarana penunjang.  Setelah dilakukan tindakan keperawatan, perawat mencatat tindakan tersebut dan respon dari pasien dengan menggunakan format khusus pendokumentasian pada pelaksanaan.

Evaluasi
Setelah dilakukan implementasi keperawatan, maka hal yang perlu di evaluasi dari tindakan yang telah kita lakukan yaitu :
  • Bersihan jalan nafas efektif
  • Pertukaran gas yang adekuat
  • Kebutuhan nutrisi dan cairan dapat terpenuhi
  • Klien dan keluarga mengetahui tentang kondisi yang dialami dan penatalaksanaan yang dilakukan

Perencanaan pulang
Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal, anjurkan klien untuk :
a.    Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan.
b.    Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak
c.    Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi.
d.    Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang.
e.    Meningkatkan nutrisi yang adekuat.






DAFTAR PUSTAKA
Price, Sylvia.,& Wilson, Lorraine. 2001. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. (Online) http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/ppok.pdf Diakses pada tanggal 06 April 2013 jam 22.05 WIB
Smeltzer, Suzanne C., et all. 2008. Brunner Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. 11th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins

Artikel Terkait

Silahkan Sobat berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan isi artikel. Dimohon untuk:
1. Tidak berkomentar kasar/berbau SARA/porno.
2. Tidak membagikan link aktif dalam kolom komentar.

Selamat Berkomentar :D
EmoticonEmoticon