Rabu, 17 Januari 2018

Laporan Pendahuluan Hipertensi


Hipertensi


A.    KONSEP PENYAKIT
1.      Definisi
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg (Kodim Nasrin, 2003 ).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001).
2.      Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik (idiopatik). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.  Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
a.       Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport  Na.
b.      Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat.
c.       Stress Lingkungan.
d.      Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta pelebaran pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
a.       Hipertensi Esensial (Primer)
            Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi
Ciri perseorangan
1)      Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
2)      Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
3)      Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
4)      Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
5)      Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ), Kegemukan atau makan berlebihan, Stress,  Merokok, Minum alcohol, Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )

b.      Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
.      Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :
1)      Ginjal
2)      Tumor
3)      Vascular
4)      Aterosklerosis
5)      Hiperplasia
6)      Trombosis
7)      Aneurisma
8)      Emboli kolestrol
9)      Vaskulitis
10)  Kelainan endokrin
11)  DM
12)  Hipertiroidisme
13)  Hipotiroidisme
14)  Saraf
15)  Stroke
16)  Ensepalitis
17)  SGB
18)  Obat – obatan
19)  Kontrasepsi oral
20)  Kortikosteroid

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada :
1)      Elastisitas dinding aorta menurun
2)      Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3)      Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4)      Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

3.      Manifestasi Klinik
a.       Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi menurut WHO ;
1.      Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
2.      Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg dan diastolik 91-94 mmHg
3.      Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.
Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection and Treatment of Hipertension
1.      Diastolik
a.       < 85 mmHg           : Tekanan darah normal
b.       85 – 99                 : Tekanan darah normal tinggi
c.       90 -104                  : Hipertensi ringan
d.      105 – 114               : Hipertensi sedang
e.       >115                        : Hipertensi berat
2.      Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a.       < 140 mmHg         : Tekanan darah normal
b.      140 – 159              : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c.         > 160                   : Hipertensi sistolik teriisolasi

Krisis hipertensi adalah Suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak (sistole ≥180 mmHg dan/atau diastole ≥120 mmHg), pada penderita hipertensi, yg membutuhkan penanggulangan segera yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target (otak, mata (retina), ginjal, jantung, dan pembuluh darah).
Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya tekanan darah.
Dibagi menjadi dua:
1.      Hipertensi Emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan obat antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut atau progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD mendadak yg disertai kerusakan organ target yang progresif dan di perlukan tindakan penurunan TD yg segera dalam kurun waktu menit/jam.
2.      Hipertensi urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif dan tekanan darah perlu diturunkan dalam beberapa jam. Penurunan TD harus dilaksanakan dalam kurun waktu 24-48 jam (penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam sampai hari).
4.      Komplikasi
Efek pada organ :
a.       Otak
  Pemekaran pembuluh darah
  Perdarahan
  Kematian sel otak : stroke
b.      Ginjal
  Malam banyak kencing
  Kerusakan sel ginjal
  Gagal ginjal
c.       Jantung
  Membesar
  Sesak nafas (dyspnoe)
  Cepat lelah
  Gagal jantung
5.      Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti jantung. (Suyono, Slamet. 1996 ).




























PathWay
Pathway Hipertensi

6.      Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
1.      Terapi tanpa Obat è Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :
a.       Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
  Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
  Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
b.      Penurunan berat badan
c.       Penurunan asupan etanol
d.      Menghentikan merokok
e.       Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu: Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu
f.       Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
1)   Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
g.      Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2.      Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan  penderita dan  penyakit lain yang ada pada penderita. 
Pengobatannya meliputi :
a.       Step 1
     Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE   
      Inhibitor
b.      Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
a)      Dosis obat pertama dinaikkan
b)      Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
c)      Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca   antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
c.       Step 3
 Alternatif yang bisa ditempuh
a)      Obat ke-2 diganti
b)      Ditambah obat ke-3 jenis lain
d.      Step 4
Alternatif pemberian obatnya
a)      Ditambah obat ke-3 dan ke-4
b)      Re-evaluasi dan konsultasi
c)      Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan (perawat, dokter ) dengan cara pemberian  pendidikan kesehatan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut :
a.       Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya
b.      Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai   tekanan darahnya
c.       Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas
d.      Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter
Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu
Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita
Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi
e.       Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah
f.       Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari
g.      Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
h.      Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal
i.        Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
j.        Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering
k.       Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang ditentukan.
l.         Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.

7.      Cara Pencegahan
1)      Pencegahan Primer
Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata, adanya hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi, obesitas dan konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk:
a.       Mengatur diet agar berat badan tetap ideal juga untuk menjaga agar tidak terjadi hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, dsb.
b.      Dilarang merokok atau menghentikan merokok.
c.       Merubah kebiasaan makan sehari-hari dengan konsumsi rendah garam.
d.      Melakukan exercise untuk mengendalikan berat badan.  

2)      Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui menderita hipertensi berupa:
a.       Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat maupun dengan tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer.
b.      Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara normal dan stabil mungkin.
c.       Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol.
d.       Batasi aktivitas.

8.      Perawatan Hipertensi
ü  Usahakan untuk dapat mempertahankan berat badan yang ideal (cegah kegemukan).
ü   Batasi pemakaian garam.
ü   Mulai kurangi pemakaian garam sejak dini apabila diketahui ada faktor keturunan hipertensi dalam keluarga.
ü  Tidak merokok.
ü  Perhatikan keseimbangan gizi, perbanyak buah dan sayuran.
ü  Hindari minum kopi yang berlebihan.
ü  Mempertahankan gizi (diet yang sehat seimbang).
ü   Periksa tekanan darah secara teratur, terutama jika usia sudah mencapai 40 tahun.

Bagi yang sudah sakit
ü  Berobat secara teratur.
ü  Jangan menghentikan, mengubah, dan menambah dosis dan jenis obat tanpa petunjuk dokter.
ü  Konsultasikan dengan petugas kesehatan jika menggunakan obat untuk penyakit lain karena ada obat yang dapat meningkatkan memperburuk hipertensi.
Mengetahui tentang hipertensi dan cara merawat bukanlah kunci utama kesembuhan, kunci utamanya adalah :
1.      Keaktifan penderita dalam pengendalian tekanan darah.
2.      Penderita berusaha, petugas petugas kesehatan membantu.
3.      Hubungan baik dan kerjasama penderita dan petugas kesehatan


11.  Diit Hipertensi
a.       Perbedaan Diit Dengan Makanan Biasa
1)        konsumsi lemak dibatasi
2)        konsumsi Cholesterol dibatasi
3)        konsumsi kalori dibatasi untuk yang terlalu gemuk atau obese
4)        Makanan yang boleh dikonsumsi
b.      Makanan Yang Boleh Dikonsumsi
1)      Sumber kalori
    Beras,tales,kentang,macaroni,mie,bihun,tepung-tepungan, gula                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
2)      Sumber protein hewani
Daging,ayam,ikan,semua terbatas kurang lebih 50 gram perhari, telur 
       ayam,telur bebek paling banyak satu butir sehari, susu tanpa lemak.
3)      Sumber protein nabati
      Kacang-kacangan kering seperti tahu,tempe,oncom
4)      Sumber lemak
      Santan kelapa encer dalam jumlah terbatas.
5)      Sayuran
       Sayuran yang tidak menimbulkan gas seperti bayam,kangkung,buncis, 
            kacang panjang, taoge, labu siam, oyong, wortel.
6)      Buah-buahan
                  Semua buah kecuali nangka, durian, hanya boleh dalam jumlah    
                  terbatas.
7)      Bumbu
Pala, kayu manis,asam,gula, bawang merah, bawang putih, garam tidak lebih 15 gram perhari.
8)      Minuman
Thea  encer, coklat encer, juice buah.
c.       Makanan Yang Tidak Boleh Dikonsumsi
1)      Makanan yang banyak mengandung garam
ü  Biscuit,krakers,cake dan kue lain yang dimasak dengan garam dapur atau soda.
ü  Dendeng, abon,cornet beaf,daging asap,ham, ikan asin,ikan pindang, sarden ikan teri, telur asin.
ü  Keju, margarine dan mentega.
2)      Makanan yang banyak mengandung kolesterol
                   Makanan dari hewan seperti otak,ginjal,hati,limfadan jantung.
3)      Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh
ü  Lemak hewan     :sapi,babi,kambing,susu jenuh,cream, keju, mentega.
ü  Kelapa, minyak kelapa,margarine,alpokat.
4)      Makanan yang banyak menimbulkan gas
                  Kool, sawi, lobak, dll.
d.      Bagaimana Mengatur Diit
1)      Hindari penggunaan kelapa, minyak kelapa,lemak hewan, margarine,mentega sebagai pengganti gunakan minyak kacang atau minyak jagung dalam jumlah tertentu.
2)      Batasi penggunaan daging hingga 3 kali seminggu dengan paling banyak 50 gram tiap kali makan, makanlah ikan air tawar sebagai pengganti.
3)      Gunakan susu skim sebagaipengganti susu penuh.
4)      Batasi penggunaan telur hingga hanya 3 kali seminggu.
5)      Gunakan sering tahu,tempe, dan hasil kacang-kacangan lainya.
6)      Batasi penggunaan gula, makanan dan minuman manis seperti sirup, coca cola, limun, permen,dodol, coklat, kolak, eskrim.
7)      Makanlah banyak sayuran dan buah-buahan.

12. Pengkajian Keperawatan
a.       Aktivitas / istirahat
Gejala :
ü  Kelemahan
ü  Letih
ü  Napas pendek
ü  Gaya hidup monoton

Tanda :
ü  Frekuensi jantung meningkat
ü  Perubahan irama jantung
ü  Takipnea

b.      Sirkulasi
Gejala :     Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner /   katup, penyakit serebrovaskuler
Tanda :
ü  Kenaikan TD
ü   Nadi : denyutan jelas
ü   Frekuensi / irama : takikardia, berbagai disritmia
ü  Bunyi jantung : murmur
ü  Distensi vena jugularis
ü  Ekstermitas
Perubahan warna kulit, suhu dingin ( vasokontriksi perifer ),  pengisian kapiler mungkin lambat

c.       Integritas Ego
Gejala: Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor stress multiple ( hubungsn, keuangan, pekerjaan )
Tanda :
ü  Letupan suasana hati
ü   Gelisah
ü  Penyempitan kontinue perhatian
ü  Tangisan yang meledak
ü  otot muka tegang ( khususnya sekitar mata )
ü  Peningkatan pola bicara



d.      Eliminasi
Gejala :  Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi,  riwayat penyakit ginjal )
e.       Makanan / Cairan
Gejala :
ü  Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan kolesterol
ü  Mual
ü   Muntah
ü  Riwayat penggunaan diuretik
  Tanda :
ü  BB normal atau obesitas
ü   Edema
ü  Kongesti vena
ü  Peningkatan JVP
ü   glikosuria
f.       Neurosensori
Gejala :
ü  Keluhan pusing / pening, sakit kepala
ü  Episode kebas
ü  Kelemahan pada satu sisi tubuh
ü  Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur, diplopia )
ü  Episode epistaksis
Tanda :
ü  Perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir atau memori ( ingatan )
ü  Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman
ü  Perubahan retinal optik
g.      Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala :
ü  nyeri hilang timbul pada tungkai
ü    sakit kepala oksipital berat
ü  nyeri abdomen
h.      Pernapasan
Gejala :
ü  Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas
ü  Takipnea
ü  Ortopnea
ü  Dispnea nocturnal proksimal
ü  Batuk dengan atau tanpa sputum
ü  Riwayat merokok
Tanda :
ü  Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan
ü  Bunyi napas tambahan ( krekles, mengi )
ü  Sianosis
i.        Keamanan
Gejala       : Gangguan koordinasi, cara jalan
Tanda       : Episode parestesia unilateral transien
j.        Pembelajaran / Penyuluhan
Gejala       :
ü  Factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM , penyakit serebrovaskuler, ginjal
ü  Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon lain
ü  Penggunaan obat / alkohol
  
13. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1)      Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard
2)       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
3)      Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
4)      Cemas berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien
5)       Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit

























RENCANA KEPERAWATAN
NO DX
DIANGOSA KEPERAWATAN DAN KOLABORASI
TUJUAN (NOC)
INTERVENSI (NIC)
1
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard
NOC :
  Cardiac Pump effectiveness
  Circulation Status
  Vital Sign Status
Kriteria Hasil:
  Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, respirasi)
  Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
  Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
  Tidak ada penurunan kesadaran
NIC :
Cardiac Care
  Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi, durasi)
  Catat adanya disritmia jantung
  Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput
  Monitor status kardiovaskuler
  Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
  Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi
  Monitor balance cairan
  Monitor adanya perubahan tekanan darah
  Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia
  Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan
  Monitor toleransi aktivitas pasien
  Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
  Anjurkan untuk menurunkan stress

Vital Sign Monitoring
  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
  Catat adanya fluktuasi tekanan darah
  Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
  Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
  Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
  Monitor kualitas dari nadi
  Monitor adanya pulsus paradoksus
  Monitor adanya pulsus alterans
  Monitor jumlah dan irama jantung
  Monitor bunyi jantung
  Monitor frekuensi dan irama pernapasan
  Monitor suara paru
  Monitor pola pernapasan abnormal
  Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
  Monitor sianosis perifer
  Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
  Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
2
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
NOC :
  Energy conservation
  Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
  Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
  Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
NIC :
Energy Management
  Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
  Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
  Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
  Monitor nutrisi  dan sumber energi tangadekuat
  Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
  Monitor respon kardivaskuler  terhadap aktivitas
  Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
  Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.
  Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
  Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
  Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
  Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
  Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
  Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
  Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
  Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
  Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
  Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual
3
Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
NOC :
  Pain Level,
  Pain control,
  Comfort level
Kriteria Hasil :
 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
 Tanda vital dalam rentang normal

NIC :
Pain Management
  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
  Kurangi faktor presipitasi nyeri
  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
  Ajarkan tentang teknik non farmakologi
  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
  Tingkatkan istirahat
  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
  Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration
  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
  Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
  Cek riwayat alergi
  Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
  Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
  Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
  Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
  Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
  Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
4
Cemas berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam,   cemas pasien berkurang dengan kriteria hasil:
Anxiety Control
Coping
Vital Sign Status
 Menunjukan teknik untuk mengontrol cemas  teknik nafas dalam
 Postur tubuh pasien rileks dan ekspresi wajah tidak tegang
 Mengungkapkan cemas berkurang
 TTV dbn
TD = 110-130/ 70-80 mmHg
RR = 14 – 24 x/ menit
N   = 60 -100 x/ menit
S    = 365 – 375 0C
Anxiety Reduction
  Gunakan pendekatan yang menenangkan
  Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
  Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
  Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
  Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
  Dorong keluarga untuk menemani anak
  Lakukan back / neck rub
  Dengarkan dengan penuh perhatian
  Identifikasi tingkat kecemasan
  Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
  Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
  Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
  Barikan obat untuk mengurangi kecemasan
5
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit
NOC :
  Kowlwdge : disease process
  Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
  Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
  Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
  Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
NIC :
Teaching : disease Process
  Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
  Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
  Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
  Hindari harapan yang kosong
  Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
  Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
  Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
  Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
  Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
  Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan cara yang tepat
  Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. ”S” DENGAN HIPERTENSI
DI POLIKLINIK RSUD dr.SOEDIRAN MANGUN SUMARSO
KABUPATEN WONOGIRI
I.                   BIODATA
·         Identitas Pasien
ü  Nama                                         : Ny. S
ü  Alamat                                       : Wonogiri
ü  Umur                                          : 61 tahun
ü  Agama                                       : Islam
ü  Status perkawinan                     : Kawin
ü  Pendidikan                                 : SD
ü  Pekerjaan                                   : -
ü  No Register                                ; 449005
·         IdentitasPenanggungJawab
ü  Nama                                         : Ny. M
ü  Umur                                          : 50 tahun
ü  Pendidikan                                 : SMA
ü  Pekerjaan                                   : Ibu rumah tangga
ü  Alamat                                       : Jakarta
ü  Hubungan dengan pasien          : Anak Kandung

II.                ALASAN PERIKSA KE RUMAH SAKIT
Ny. S mengatakan bahwa ia ingin mendapatkan pengobatan penyakitnya, yaiitu Hipertensi.

III.             DIMENSI BIOMEDIK
a.       Riwayat penyakit (6 bulan terakhir penyakit)
Ny. S mengatakan sejak 3 bulan yang lalu mengeluh pusing. Pusing hilang timbul. Sejak 1 minggu yang lalu pasien mengeluh pusing.
b.      Riwayat penyakit keluarga
Ny. S Mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang mengalami penyakit yang sama dengan dia sebelumnya..
c.       Riwayat penyakit dahulu
Ny. S mengatakan pusing. Keluhan pusing yang dirasakan penderita “kumat-kumatan”. Selain pusing Ny. S mengatakan dulu kurang lebih 2 bulan yang lalu dia pernah menderita muntah-muntah bila kepala sedang pusing. Sembuh ketikan mendapat obat dari periksa ke Rumah Sakit
d.      Riwayat Pencegahan Kesehatan
1.      Monitoring kesehatan
Ny. S mengatakan sering  kontrol atau berobat terhadap penyakit darah tinggi yang di deritanya.
Riwayat Vaksinasi : -
2.      Skrinning Kesehatan
e.       Riwayat Gizi
Di rumah  Ny. S makan 3x sehari. BB: 63 kg  TB: 170 cm
f.       Masalah kesehatan terkait dengan status gizi
1.      Masalah pada mulut
Ny.S tidak mengalami masalah pada mulut, baik bau mulut, stomatitis, dan sakit gigi.
2.      Masalah pada berat badan
Ny.  S tidak mengalami masalah berat badan karena makan teratur dan tidak merasa mengalami penurunan/kenaikan berat badan.
3.      Masalah nutrisi
Ny.S selama sakit tidak mengalami gangguan nafsu makan sehingga tidak berpengaruh pada berat badannya.Ny. S mengatakan menyukai semua makanan dan tidak memiliki alergi terhadap makanan tertentu.Hanya saja kalau kepalanya pusing sering membuat perutnya menjadi mual dan kadang sampai muntah-muntah.
g.      Masalah kesehatan yang dialami saat ini
P :        Ny. S mengatakan bahwa pusing yang ia rasakan saat beraktifitas berlebihan. Namun pusing akan berkurang jika digunakan untuk istirahat atau tidur
Q :       Ny. S mengatakan bahwa pusingnya terasa cekot-cekot.
R :        Ny. S mengatakan pusing pada dahi dan tengkuk
S :        Skala nyeri 4
T :        Ny. S mengatakan bila pusingnya timbul terasa cekot-cekot selama 5-10 menit kemudian hilang setelah digunakan untuk istirahat atau tidur. Wajahnya Tn. S tampak menahan nyeri (sedikit meringis).
h.      Obat-obatan yang dikonsumsi
Ny.S mengkonsumsiobat-obatan dari Dokter yang didapat ketika berobat ke Poliklinik Geriatrik RSU dr Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri.
i.        Tindakan spesifik yang dilakukan saat ini
Ny. S mengatakan tidak ada tindakan spesifik yang dia lakukan untuk mengurangi / mengobati penyakitnya. Ny.S  hanya istirahat / tidur jika pusing cekot-cekot nya timbul.
j.        Status fungsional
No.
Kegiatan
Mandiri
Bantuan Sebagian
Bantuan Penuh
1.
Mandi


2.
Berpakaian


3.
Ke Kamar Kecil


4.
Berpindah Tempat


5.
BAK/BAB


6.
Makan/Minum


Keterangan : Ny.S dapat beraktivitas secara mandiri tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain.
k.      Personal hygine
Ny. S  menggosok gigi 2x sehari dan mandi 2x sehari secara mandiri selain itu Ny. S juga memotong kukunya jika sudah panjang.

IV.             DIMENSI PSIKOLOGIS
Short Portable Mental Status Questionare ( SPMSQ )
Pertanyaan           
Benar
Salah
Nomor
Pertanyaan
Jawaban

1
Tanggal berapa hari ini ?
29 September  2015

2
Hari apa sekarang ?
Selasa

3
Apa nama tempat ini ?
Poliklinik RS

4
Dimana alamat anda ?
Wonogiri

5
Berapa umur anda ?
70 tahun

6
Kapan anda lahir ?
Lupa

7
Siapa presiden Indonesia ?
Jokowi

8
Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?
SBY

9
Siapa nama kecil anda ?
Tidak punya

10
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari setiap angka baru, secara menurun
17, 14, 11, 8, 5,
JUMLAH          Benar: 9
Salah : 1

Interpretasi :
Salah 0 – 3      : Fungsi intelektual utuh
Salah 4 – 5      : Fungsi intelektual kerusakan ringan
Salah 6 – 8      : Fungsi intelektual kerusakan sedang
Salah 9 – 10    : Fungsi intelektual kerusakan berat
Dari hasil Short Portable Mental Status Questionare ( SPMSQ ) di dapatkan hasil  9 benar dan 1 salah ini menunjukkan bahwah fungsi intelektual Ny. “S” memiliki fungsi intelektual utuh.
     MMSE (Mini Mental Status Exam)
No
Aspek
Kognitif
Nilai
maksimal
Nilai
Penerima manfaat
Kriteria
1
Orientasi
5
5
Menyebutkan dengan benar :
Tahun       : 2015 (Benar)
Musim      : Penghujan (Benar)
Tanggal    : 29
Hari          : selasa (Benar)
Bulan        : September
2
Orientasi
5
5
Dimana sekarang kita berada ?
Negara: Indonesia (Benar)
Propinsi : jawa (Benar)
Kabupaten/kota : Wonogiri (Benar)
Di Ruang Poliklinik Geriatrik
3
Registrasi
3
3
Sebutkan 3 nama obyek (misal : kursi, meja, kertas), kemudian ditanyakan kepada penerima manfaat, menjawab :
a.       Kursi
b.      Meja
c.        Kertas
4
Perhatian dan kalkulasi
5
5
Meminta penerima manfaat berhitung mulai dari 20 – 30 dengan kelipatan tambah 2
 Jawaban : 20, 22, 24, 26, 28, 30
5
Mengingat
3
3
Minta penerima manfaat untuk mengulangi ketiga obyek pada poin ke- 2 (tiap poin nilai 1) 
6
Bahasa
9
6
Menanyakan pada penerima manfaat tentang benda (sambil menunjukan benda tersebut).
Minta penerima manfaat untuk mengulangi kata berkut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Penerima manfaatmenjawab :tidak ada, jika dan tetapi.
Minta penerima manfaat untuk mengikuti perintah berikut yang terdiri 3 langkah.
1. Ambil kertas ditangan anda
2. lipat dua
3. dan taruh dilantai
Perintahkan pada penerima manfaat untuk hal berikut (bila aktifitas sesuai perintah nilai satu poin.
“tutup mata anda”
Perintahkan kepada penerima manfaat untuk menulis kalimat dan menyalin gambar.
Total nilai
30
27

Interpretasi hasil :
24 – 30     : tidak ada gangguan kognitif
18 – 23     : gangguan kognitif sedang
0 -  17       : gangguan kognitif berat
Dari hasilMMSE (Mini Mental Status Exam)di dapatkan hasil 24 ini menunjukkan bahwah Ny. ”S” tidak ada gangguan kognitif.
V.                DIMENSI FISIK
a.       Luas rumah Ny.S kurang lebih 250 meter persegi
b.      Keadaan lingkungan dalam rumah
1.                Penerangan
Penerangan dalam rumah  cukup, karena disetiap ruang atau kamar-kamar sudah terpasang lampu.
2.                Kebersihan dan kerapihan
Kebersihan ruangan sudah cukup bersih, penataan barang seperti meja makan, TV dan ruang tamu sudah ditata dengan rapi sehingga meminimal resiko jatuh padat Ny.S.
3.                Pembagiaan ruangan
Rumah Ny.S berada di pinggir jalan, agak kurang nyaman untuk beristirahat. Rumahnya dibagi menjadi beberapa kamar, yang satu kamar untuk Ny.S, kamar yang  lain dipakai anaknya  dan  cucunya
4.                Sirkulasi udara
Sirkulasi udara di rumah Ny.S sudah bagus, karena masing-masing ruang dan kamar memiliki ventilasi jendela dan pintu.
5.                Sumber air minum
Sumber minum untuk rumah Ny.S menggunakan  air galon dan dispenser,
c.       Keadaan luar rumah Ny.S
1.      Pemanfaatan Halaman
Halaman depan rumah Ny.S  ada beberapa  tanaman bunga yang ditanam dipot bunga
2.      Pembuangan air limbah
Pembuangan air limbah di rumah  sudah bagus karena di samping rumah  sudah tersedia selokan dan selokan tersebut lancar tidak tersumbat dengan kotoran.


3.      Pembuangan sampah
Di rumah Ny.S  sudah tersedia tempat sampah di depan pintu, sudah menjadi  kebiasaan Ny.S dan anak2membuang sampah ditempat sampah yang sudah disediakan.
4.      Sanitasi
Disamping rumah Ny.S terdapat saluran untuk pembuangan limbah cair.
5.      Sumber pencemaran
Sumber pencemaran diakibatkan oleh Ny.S yang buang air kecil dihalaman belakang wisma

VI.             DIMENSI SOSIAL
1.      Hubungan Ny.S dengan pasien yang lain
Ny. S mengatakan hubungannya  dengan pasien yang  lain terjalin baik, saling menyapa dan mengobrol.
2.      Hubungan Ny.S  dengan anggota keluarga
Ny. S mengatakan hubungan dengan keluarga terjalin dengan komunikasi yang baik.
3.      Kegiatan organisasi social
Ny. S mengatakan mengikuti acara rutin di tingkat RT, seperti arisan , kerja bakti yang ringan 

VII.          DIMENSI TINGKAH LAKU
1.      Pola makan
Ny.S  mengatakan biasa makan 3 kali sehari. Ny.S juga mengatakan makan makanan yang sama dengan keluarganya tanpa adanya perbedaan makanan dengan yang lain.
2.      Pola tidur
Ny.S  tidur kurang lebih 4-6 jam perhari, Ny.S sering terbangun saat malam hari karenan ingin kencing.


3.      Pola eliminasi
Ny.S tidak mengalami gangguan saat BAB dan BAK.Tn.S  BAB 1 kali per hari dengan konsistensi lembek dan BAK 4-5 kali per hari lancar tanpa ada gangguan.
4.      Kebiasaan lansia
Ny. S mengatakan kebiasaan sehari-hari yang sering dilakukan adalah bangun tidur jam 3, kemudian menungu adzan subuh, Ny. S berangkat ke mushola samping rumah. Setelah sholat Ny. S persiapan untuk jalan-jalan.
Kegiatan olahraga
Setelah sholat subuh biasanya Ny. S jalan-jalan mengelilingi lingkungan rumah.
5.      Rekreasi
Rekreasi yang dilakukan Ny. S adalah menonton TV dan membaca koran.
6.      Pengambilan keputusan
Ny. S mengatakan bahwa setiap pengambilan keputusan dilakukan oleh dirinya sendiri, di bantu oleh keluarga terdekat.

VIII.       DIMENSI PELAYANAN KESEHATAN
1.      Fasilitas kesehatan yang tersedia
Fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan rumah Ny.S adalah perawat yang bekerja di Puskesmas, sehingga Ny.S sering minta kontrol Tekanan Darah.
2.      Tindakan pencegahan terhadap penyakit
Tindakan yang dilakukan untuk pencegahan terhadap penyakit salah satunya adalah pembuangan sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan ruangan, baik kamar maupun ruang yang lain agar terhindar dari jentik-jentik nyamuk.
Jenis pelayanan kesehatan yang tersedia.

IX.             PEMERIKSAAN FISIK
ü  Keadaan Umum
ü  Kesadaran Ny. S composmentis
ü  Vital Sign :
·         Suhu = 37 0C
·         Nadi = 85 x/menit
·         RR = 20 x/menit
·         TD = 160/100 mmHg
a.       Kepala
Normocephalus, rambut beruban, dan kelihatan bersih, tidak ada luka, tidak ada nyeri tekan pada kepala dan tidak ada benjolan.
b.      Mata
Bentuk tampak simetris, konjungtiva tak tampak anemis, sclera tidak ikterik, pupil isokor, penglihatan sedikit kabur, tidak ada peradangan, tidak menggunakan kaca mata, tidak ada nyeri dan tidak ada benjolan.
c.       Hidung
Bentuk tampak simetris, tidak ada luka, tidak ada peradangan, tidak ada secret pada hidung, tidak ada nyeri tekan, penciuman masih cukup baik.
d.      Mulut dan Tenggorokan
Mulut tampak sedikit kotor, mukosa mulut tampak kering, tidak ada peradangan, gigi tampak kuning, tampak careas gigi dan gigi tampak ompong, sudah hilang tiga, mengalami kesulitan saat mengunyah dan tidak ada kesulitan saat menelan.
e.       Telinga
Bentuk simetris, tidak ada luka, tidak tampak serumen, tidak ada peradangan, tidak nyeri tekan pada bagian belakng telinga (mastoideus), tidak ada benjolan, pendengaran masih bagus.
f.       Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada luka, tidak ada bendungan vena jugularis, penerima manfaat mengeluh leher bagian belakang, terasa berat (kaku kuduk).
g.      Dada
Tampak simetris, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada nyeri tekan.
h.      Abdomen
Bentuk simetris, tidak ada oedema, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa.
i.        Genetalia
Tidak terkaji
j.        Ekstremitas
·         Atas : kekuatan otot ka/ki       : 5/5
·         ROM ka/ki                  : aktif
·         Capilary Refile            : 1 detik
·         Akral                           : Hangat
ü  Bawah : kekuatan otot ka/ki   : 5/5
ü  ROM ka/ki                  : aktif
ü  Capilary Refile            : 1 detik
ü  Akral                           : Hangat
k.       Integument
Kebersihan cukup baik, warna kulit hitam, lembab, tidak ada gangguan pada kulit.

X.                TERAPI MEDIS
Hari/Tanggal/Jam
JenisTerapi
Dosis
Golongan&Kandungan
Fungsi&Farmakologi
Jum’at
01/09/15
Amdixal
5 mgr/ 24 jam
Anti hipertensi
Menurukan Tekanan arah

Omeprazol
1x1



Dexanta Syrup
1 sdk mkn/8 jam







XI.             ANALISA DATA
Nama        : Ny. S
Umur        : 61 Tahun
No
Hari/Tgl/Jam
Data Fokus
Problem
Etiologi
Ttd
1.
Kamis,  01/Oktober 15 jam 08.00 WIB
DS:
·         Ny.S mengeluh sakit kepala
P : Ny. S mengatakan bahwa pusing yang ia rasakan saat beraktifitas berlebihan.
Q :       Ny. S mengatakan bahwa pusingnya terasa cekot-cekot.
R :       Ny. S mengatakan pusing pada dahi dan tengkuk
S :        Skala nyeri 4
T :        Ny. S mengatakan bila pusingnya timbul terasa cekot-cekot selama 5-10 menit kemudian hilang setelah digunakan untuk istirahat atau tidur.
·         Ny.S mengeluh penglihatannya kabur
DO:
·         Wajah Ny. S tampak menahan nyeri (sedikit meringis).
·         TTV
Suhu = 37 0C
Nadi = 85 x/menit
RR = 20 x/menit
TD = 160/100 mmHg
Nyeri
Peningkatan tekanan serebro vaskuler


2.
Kamis 01 / okt/ 2015
jam 08,15 WIB
DS:
·         Ny.S  mengatakan sudah lama  memiliki darah tinggi (hipertensi)
·         Ny.S mengatakan mengkonsumsi obat-obatan hipertensi
·         Ny,S mengatakan belum banyak mengerti tentang penyakit darah tinggi
DO:
·         Pasien bertanya tentang penyakitnya.
·           TTV
Suhu = 37 0C
Nadi = 85 x/menit , RR 20 x/mnt
TD = 160/100 mmHg
Kurang pengetahuan
Kurang informasi mengenai penyakit dan terapi Hipertensi


XII.          PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan serebro vaskuler
2.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai penyakit dan penatalaksanaan Hipertensi.



XIII.       RENCANA KEPERAWATAN
No. DX
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
TTD
1.       
v    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien  tidak mengalami nyeri, atau nyeri berkurang dan hilang.
Kriteria Hasil :
·         Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
·         Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
·         Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
·         Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
·         Tanda vital dalam rentang normal
1.      Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2.      Kaji tanda-tanda vital
3.      Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
4.      Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
5.      Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
6.      Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
7.      Kurangi faktor presipitasi nyeri
8.      Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
9.      Ajarkan tentang teknik non farmakologi (rileksasi aromaterapi mawar)
10.  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil (pemberian analgetik)
§  

2.       
v    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama  3 x 24 jam pasien  menunjukan pengetahuan tentang proses penyakit.
Kriteria Hasil :
·         Ny.S menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
·         Ny.S mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
·         Ny.S mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

1.      Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan penerima manfaat  tentang proses penyakit yang spesifik
2.      Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3.      Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
4.      Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5.      Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
6.      Sediakan informasi pada peneima manfaat tentang kondisi, dengan cara yang tepat.
7.      Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
8.      Instruksikan penerima manfaat mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat


XIV.       TINDAKAN KEPERAWATAN
Nama: Ny. S
Umur : 61 tahun

Hari/Tanggal/Jam
No. DX
Implementasi
Respon
TTD
Kamis 01 Okt 15. Jam 08.00 WIB
1.       
·         Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

S:
·         P : Ny. S mengatakan bahwa pusing yang ia rasakan saat kelelahan.
 Q : Ny. S mengatakan bahwa pusingnya terasa cekot-cekot.
R : Ny. S mengatakan pusing pada dahi dan tengkuk
S : Skala nyeri 4
T : Ny. S mengatakan bila pusingnya timbul terasa cekot-cekot selama 5-10 menit
·         Ny. S mengatakan nyeri bertambah saat banyak melakukan aktivitas
·         Ny. S mengatakan nyeri hilang saat dibuat istirahat/ tidur
O:
·         Ny.S . Terlihat kooperatif.

Kamis 01 Okt 15. Jam 08.30 WIB
1,2
·         Melakukan pemeriksaan Tanda-tanda vital
·         Menanyakan kepada Ny. S apakah tekanan darahnya sering tinggi
·         Memberitahukan hasil pemeriksaan tekanan darah kepada Ny.S
S:
·         Ny. S mengatakan menderita darah tinggi sudah lama.
·         Ny. S menanyakan tentang masalah hipertensi
O:
·         TTV
Suhu = 37 0C
Nadi = 85 x/menit , RR = 20 x/mnt
TD = 150/90 mmHg
·         Ny. S terlihat bertanya mengenai penyakit hipertensi

Kamis 01 Okt 15. Jam 09.00 WIB
2.       
·         Memberikan penjelasan/ penyuluhan  kepada Ny. S  mengenai penyakit hipertensi
·         Memberikan penjelasan tentang penyebab hipertensi
·         Memberikan penjelasan tentang tanda dan gejala hipertensi dan cara mengontrol hipertensi
S:
·         Ny. S menanyakan apakah tekanan darahnya sudah menurun
·         Ny. S mengatakan masih belum mengerti betul tentang hipertensi
·         Ny.S mengatakan sudah mengerti bagaimana mencegah agar hipertensi tidak bertambah parah.
O:
·         Ny. S terlihat agak bingung saat diberi penjelasan
·         TD : 140/90 mmHg







PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis membahas tentang proses  keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,  rencana tindakan, implementasi, dan evaluasi yang muncul dalam Asuhan keperawatan pada Ny. S dengan Hipertensi. Penulis menegakkan dua diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny. S yaitu :
1.    Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan cerebro vaskuler
2.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai penyakit dan penata laksanaan hipertensi.
Penulis tidak menggeser prioritas masalah keperawatan pada Ny. S karena sudah sesuai dengan urutan prioritas kebutuhan dasar manusia menurut Hirarki Maslow, yaitu :
1.      Kebutuhan fisiologis
2.      Kebutuhan aman dan nyaman
3.      Kebutuhan cinta dan memiliki
4.      Kebutuhan harga diri
5.      Kebutuhan aktualitas diri
Dari prioritas masalah tersebut diatas, penulis akan membahas secara rinci sebagai berikut :
1.    Nyeri akut  berhubungan dengan peningkatan tekanan cerebro vaskuler
1.    Pengkajian
Menurut Intan Sari Nurjanah (2005), pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Pengkajian terdiri dari pengumpulan data dan perumusan masalah .Data yang dikumpulkan meliputi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Berdasarkan pengkajian yang telah penulis lakukan pada Ny. S, maka penulis memperoleh data sebagai berikut :

a.       Data fokus
1)      Data subyektif
Ny.S mengatakan kepala pusing cekot-cekot
P  : Saat kecapekan
Q : cekot-cekot (seperti tertusuk jarum)
R: di kepala (kening)
S : skala 4
T : ± 4-5 x dalam sehari ±5-10 menit
2)      Data obyektif
Wajah Ny. S tampak menahan nyeri (sedikit meringis).
TTV
Suhu = 37 0C
Nadi = 85 x/menit
RR = 20 x/menit
TD = 160/100 mmHg
b.      Pembahasan
Pada Ny. S ditemukan data fokus :
Kepalanya terasa pusing cekot-cekot sewaktu-waktu hal tersebut disebabkan karena arteri besar kehilangan kelenturan dan menjadi kaku, sehingga pembuluh darah tidak dapat mengembang dan terjadi vasokontriksi pembuluh darah. Akibatnya tekanan darah menjadi tinggi (Brunner dan Suddarth, 2005)


  1. Diagnosa keperawatan
a.       Definisi
Nyeri adalah pengalaman emosional dan sensori yang tidak menyenangkan yang muncul dari kerusakan serangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat yang dapat diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan, NANDA (2005 – 2006).
b.      Kesesuaian dengan batasan karakteristik
Batasan karakteristik pada diagnosa keperawatan nyeri akut NANDA (2005-2006), adalah :
1)      Melaporkan nyeri secara verbal atau nonverbal
2)      Menunjukkan kerusakan
3)      Posisi untuk mengurangi nyeri
4)      Gerakan untuk melindungi
5)      Tingkah laku berhati-hati
6)      Muka topeng
7)      Gangguan tidur (mata sayup, tampak capek, sulit, gerakan kacau, menyeringai)
8)      Fokus pada diri sendiri
9)      Fokus menyempit (penurunan persepsi, waktu, perusakan proses berfikir, penurunan interaksi dengan orang lain dan lingkungan)
10)   Tingkah laku distraksi (jalan-jalan, menemui orang lain, aktivitas     berulang)
11)   Respon otonom (diaporesis, perubahan tekanan darah, perubahan atas, nadi, dilatasi pupil)
12)   Perubahan otonomi dalam tonus otot (dalam, rentang lemah, kaku)
13)   Tingkah laku ekspresif (gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, napas panjang, mengeluh)
14)   Perubahan dalam nafsu makan
Data pada Ny. S juga terdapat pada batasan karakterristik nyeri adalah:
a.       Melaporkan nyeri secara verbal dan non verbal
Ditunjukkan dengan data: Ny. S mengatakan kepalanya terasa cekot-cekot, nyeri sewaktu-waktu, nyeri skala 4 ,nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum.
b.      Posisi untuk mengurangi nyeri
Ditunjukkan dengan data: nyeri berkurang kalau digunakan        untuk istirahat,nyeri hilang timbul.
Dari data yang telah penulis temukan saat pengkajian ternyata data yang telah di dapat penulis sudah sesuai dengan batasan karakteristik dan pengertian nyeri akut menurut Sheila Sparks Ralph (2005) sehingga diagnosa tersebut dapat ditegakkan.
c.       Pembahasan
Penulis tidak merevisi etiologi pada diagnosa tersebut diatas sehingga penulis tetap menegakkan diagnosa nyeri akut yang berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebri karena etiologi tersebut sudah sesuai dengan NANDA (2005-2006) yang dikutip oleh Sheila Sparks Ralph (2005).
  1. Prioritas masalah
      Masalah nyeri akut termasuk dalam kebutuhan aman dan nyaman yang pada urutan prioritas kebutuhan dasar menurut Hirarki Maslow yang dikutip Aziz Alimul (2007). Penulis memprioritaskan nyeri akut yaitu  sebagai diagnosa keperawatan pertama. Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah.
  1. Perencanaan
a.       Tujuan
Untuk mengatasi masalah pada Ny.S, penulis akan merevisi tujuan menjadi penerima manfaat dapat mengontrol nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan sampai dengan tanggal 2 Januari 2015. Teori tersebut diambil sesuai dengan saran yang dianjurkan oleh Marion Johnson yang mengarang NOC (2000) dan sesuai dengan metode SMART , yang diungkapkan oleh Nursalam (2001), yaitu :
S   :   Spesifik (tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda)
M  :   Measurable (tujuan keperawatan harus dapat diukur khususnya tentang perilaku, dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau)
A  :   Achievable (tujuan harus dicapai)
R  :   Reasonable (tujuan harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah)
T   :   Time (waktu tujuan keperawatan)
Maka penulis menggunakan metode SMART ini pada Ny. S sebagai berikut :
S   :   tujuan spesifik untuk Ny. S
M  :   tujuan yang diambil dapat dipantau terutama pada perilaku
A  :   tujuan yang diambil sesuai dengan kemampuan untuk mencapai tujuan tersebut
R  :   diharapkan mencapai level nyaman selama sampai 24 jam agar nyeri berkurang
T   :   dalam waktu 24 jam penerima manfaat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan rasa nyaman untuk mengontrol nyeri.
Penulis menetapkan tujuan dalam waktu 3 hari diharapkan penerima manfaat dapat mengontrol nyeri karena mengingat nyeri yang dirasakan oleh penerima manfaat termasuk nyeri sedang
b.      Kriteria hasil:
Dari tujuan diatas maka penulis mengambil kriteria hasil sesuai dengan NOC oleh Maria Johnson (2000), yaitu melaporkan nyeri bagian tubuh yang nyeri, frekuensi nyeri, lamanya serangan nyeri, ekspresi wajah.
c.       Intervensi
Penulis mengambil intervensi manajemen untuk mengatasi masalah nyeri NIC oleh Joanne C. Mc. Closkey (2005) : manajemen nyeri dengan tindakan :
1)        Kaji keadaan umum penerima manfaat.
Rasional :Keadaan umum menunjukkan keadaan penerima manfaat secarautuh  dan dengan mengetahui tanda-tanda vital terutama tekanan darah. Untuk menentukan tindakan selanjutnya
2)        Kaji tingkat nyeri penerima manfaat.
Rasional :Untuk mengetahui tingkat nyeri penerima manfaat dengan menggunakan pengkajian PQRST
3)        Kaji lokasi intensitas dan skala nyeri.
Rasional :Untuk mengetahui nyeri yang dirasakan penerima manfaat sehingga bisa ditentukan intervensi yang tepat selanjutnya
4)        Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
Rasional : Untuk menghindari insiden kecelakaan atau terjatuhnya karena penerima manfaat pusing.
5)        Berikan tindakan non farmakologis (akupresur)
Rasional : Meningkatkan vasodilatasi pembuluh darah besar pada kaki dan memberikan rasa nyaman.
6)        Berikan penjelasan cara untuk meminimalkan aktifitas vasokontriksi.
Rasional : Aktifitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala
7)        Kolaborasi dalam pemberian obat analgesik sesuai indikasi
Rasional : Analgesik dapat mengurangi rasa nyeri
  1. Pelaksanaan
a.       Tindakan yang dilakukan
1)    Mengkaji keadaan umum penerima manfaat.
Rasional :Keadaan umum menunjukkan keadaan penerima manfaat secarautuh  dan dengan mengetahui tanda-tanda vital terutama tekanan darah. Untuk menentukan tindakan selanjutnya
2)    Mengkaji tingkat nyeri penerima manfaat.
Rasional :Untuk mengetahui tingkat nyeri penerima manfaat dengan menggunakan pengkajian PQRST
3)    Mengkaji lokasi intensitas dan skala nyeri.
Rasional :Untuk mengetahui nyeri yang dirasakan penerima manfaat sehingga bisa ditentukan intervensi yang tepat selanjutnya
4)    Membantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
Rasional : Untuk menghindari insiden kecelakaan atau terjatuhnya karena penerima manfaat pusing.
5)   Memberikan tindakan non farmakologis (relaksasi aromaterapi mawar)
Rasional : Meningkatkan vasodilatasi pembuluh darah, memberikan rasa nyaman
6)      Memberikan penjelasan cara untuk meminimalkan aktifitas vasokontriksi.
Rasional :Aktifitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala
7)      Evaluasi
Menurut Carol V sebagaimana dikutip oleh Aziz Alimul  (2001) dokumentasi evaluasi meliputi respon subyektif , respon obyektif, analisa dan planning. Evaluasi membuktikan apakah tujuan tercapai.
S :   Penerima manfaat mengatakan pusing sudah berkurang, skala nyeri 2
O :
·         Keadaan umum penerima manfaat baik
·         Penerima manfaat tampak rileks
·         Tanda-tanda vital penerima manfaat mendekati batas normal
TTV :
TD : 140/90 mmHg,
N : 84x/menit,
S : 36,5 0C,
RR : 20x/menit.
A :Masalah keperawatan nyeri teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi no. 1, 2, 9
Anjurkan untuk menggunakan teknik relaksasi aromaterapi saat kepala terasa pusing
2.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan program terapi
A.  Pengkajian
Berdasarkan yang penulis lakukan pada Ny. S, maka penulis memperoleh data sebagai berikut :
1)            Data fokus
DS:
·         Penerima manfaat mengatakan tidak tahu jika memiliki darah tinggi (hipertensi)
·         Penerima manfaat mengatakan tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi
·         Penerima manfaat mengatakan tidak mengerti tentang penyakit darah tinggi
DO:
·           Penerima manfaat bertanya tentang penyakitnya.
·           TTV
TD: 160/90 mmHg
Nadi = 85 x/menit
2)            Pembahasan
Pada Ny. S ditemukan data fokus :
1.      Ny. S memiliki pengetahuan yang kurang mengenai penyakit hipertensi, karena sedikitnya informasi yang didapat dan mudah lupa dengan informasi yang sudah diberikan
2.      Data obyektif
Ny. S terlihat cukup memahami penjelasan perawat, dan bisa mengaplikasikan apa yang telah dijelaskan oleh perawat
3)            Metode pengkajian
Dalam melakukan pengkajian, penulis menggunakan metode autoanamnesa, alloanamnesa dan observasi langsung.


4)            Kendala yang dihadapi
Dalam melakukan pengkajian kepada Ny. S , tidak didapatkan kendala karena Ny. S kooperatif saat dilakukan pengkajian dan mampu menjawab pertanyaan mengenai penyakit hipertensi yang telah diberikan perawat.
b.      Diagnosa keperawatan
1)            Definisi
Suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilan-keterampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan.
(Nanda 2005 – 2006)
2)            Batasan karakteristik
keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.
1.      Data subyektif
·         Penerima manfaat mengatakan tidak tahu jika memiliki darah tinggi (hipertensi)
·         Penerima manfaat mengatakan tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi
·         Penerima manfaat mengatakan tidak mengerti tentang penyakit darah tinggi
DO :
·           Penerima manfaat bertanya tentang penyakitnya.
·           TTV
TD: 160/90 mmHg
Nadi = 85 x/menit
3)            Pembahasan
Diagnosa yang digakkan penulis adalah Kurang pengetahuan  yang berhubungan kurangnya informasi tentang penyakit dan program therapi . Menurut nanda 2007-2008.Suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau keterampilan-keterampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan.
c.       Prioritas masalah
Kurang pengetahuan penulis tegakkan sebagai prioritas masalah ketiga. Perry dan Potter (2005) bahwa lingkungan fisik, dan mengetahui tentang dirinya berpengaruh penting pada kemampuan untuk hidup sehat dan tetap bugar. Ny. S mengalami kurang pengetahuan karena keterbatasann kognitif. Penulis memprioritaskan kurang bpengetahuan sebagai diagnosa keperawatan
ke-III.Hal ini sesuai dengan teori Brunner dan Sudarth (2001) Kurang pengetahuan tidak menunjukkan respons, perubahan, atau pola disfungsi manusia, tetapi lebih sebagai suatu etiologi atau faktor penunjang (Jenny, 1987).Kurang pengetahuan dapat menambah suatu variasi respons-respons (mis; ansietas, kurang perawatan diri).
3.      Perencanaan
1)            Tujuan
Untuk mengatasi masalah keperawatan pada Ny. S, penulis mengambil tujuan Ny. S diharapkan mengetahui informasi tentang hipertensi dengan kriteria hasil : Ny.S mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi,  setelah dilakukan tindakan keperawatan  tanggal 01 Oktober 2015. Tujuannya Ny.S mampu mengerti akan penyakitnya dan cara mencegahnya yang diambil sesuai dengan saran yang dianjurkan oleh Marion Johnson yang mengarang NOC (2000), sudah sesuai dengan metode SMART yang diungkapkan oleh Nursalam (2001), yaitu :
S   : tujuan spesifik untuk Ny. S
M : tujuan yang diambil dapat dipantau terutama pada perilaku
A  : tujuan yang diambil sesuai dengan kemampuan Ny. S untuk mencapai tujuan tersebut
R  : Diharapkan mencapai tujuan dan kriteria hasil         
T   : dalam waktu 3x60 menit penerima manfaat diharapkan mampu memahami tentang hipertensi sehingga harus dilakukan tindakan pemenuhan pendidikan kesehatan dan motivasi (Brunner dan Suddarth, 2001)
2)            Kriteria hasil
Dari tujuan diatas maka penulis mengambil kriteria hasil yang sesuai dengan NOC  oleh Marian Johnson (2000), yaitu : Ny.S  menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan. Ny.s mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar, mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat.
4.      Intervensi.
Penulis mengambil intervensi managemen pengetahuan untuk mengatasi masalah kurang pengetahuan.NIC  (2005) oleh Joanne C. Mc. Closkey (2005), dengan tindakan :
1.      Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan Ny.S tentang penyakitnya
Rasional  : Mengetahui apa yang diketahui Ny.S tentang penyakitnya.
2.      Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang, tidak penuh dengan stress.
Rasional ;  agar Ny.S dapat tidur dengan nyaman (Doenges, 2000)
3.      Berikan pendidikan kesehatan tentang cara mencegah dan mengatasi hipertensi.
Rasional  :  Menambah pengetahuan Ny.S sehingga bisa mencegah dan mengatasi hipertensi(Doenges, 2000)
b.      Pelaksanaan
1)            Tindakan yang dilakukan
1.      Mengkaji sejauh mana tingkat pengetahuan Ny.S tentang penyakitnya
Rasional :  membantu mengidentifikasi pengetahuan Ny.S, sehingga dapat ditempuh intervensi yang tepat (Doenges, 2000)
2.      Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara mencegah dan mengatasi hipertensi.
Rasional :  untuk mencapai pengetahuan Ny.S sehingga penerima manfaat bisa mencegah dan mengatasi hipertensi (Doenges, 2000).
c.       Evaluasi
Penulis menggunakan evaluasi SOAP dengan cara wawancara atau autoanamnesa.
S :  Ny.S  mengatakan sudah agak tahu apa itu hipertensi, dan penyebab terjadinya hipertensi
O :
·         keadaan umum Ny.S baik
·         Ny.S  tampak mengerti, menyebutkan penyebab yang memperberat hipertensi
·         Ny.S tampak mau mengikuti saran perawat
·         TTV dalam batas normal
TD : 140/90 mmHg
N : 84 x/mnt
S : 36,5 0C
RR : 20x/mnt
A: masalah keperawatan kurang pengetahuan teratasi
P :  Pertahankan intervensi
·         Berikan penyuluhan mengenai penyakitnya
·         Evaluasi tingkat pengetahuan setiap selesai memberi penyuluhan.















DAFTAR PUSTAKA

Wartonah, Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi 3.Jakarta : Salemba Medika.
Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC  Edisi 7. Jakarta : EGC
Satya. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Kebutuhan Aktivitas. http://satyaexcel.blogspot.com/2012/07/laporan-pendahuluan-kebutuhan-aktivitas.html. Diakses pada tanggal 25 Desember 2014 jam 13.10 WIB
Stanley, Mickey & Patricia gauntiett beare. 2006. Buku Ajar Keperawaan Gerontik ed. 2.Jakarta : EGC





Artikel Terkait

1 komentar so far

Silahkan Sobat berkomentar dengan sopan dan sesuai dengan isi artikel. Dimohon untuk:
1. Tidak berkomentar kasar/berbau SARA/porno.
2. Tidak membagikan link aktif dalam kolom komentar.

Selamat Berkomentar :D
EmoticonEmoticon